Saturday, March 3, 2012

WASIAT HASAN BASRI KEPADA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Hasan Basri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, dan dalam suratnya Hasan Basri berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan itu membuat pelakunya meninggalkannya"

"Apa yang telah hilang walaupun sangat banyak - tidak boleh dibandingkan dengan apa yang masih ada, walaupun mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabarlah terhadap kepenatan sebentar yang menghasilkan istirehat yang lama daripada penyegeraan istirehat sebentar yang menghasilkan kepenatan yang abadi".

"Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berkhianat, dan memperdaya. la berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat rindu para pelamarnya, hingga ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanya, semua hati rindu kepadanya, dan semua jiwa tertarik kepadanya, ia menjadi pembunuh bagi semua suami-suaminya".

"Tragisnya orang yang masih hidup tidak mahu belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika ia diberi penjelasan tentang dunia".

"Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, ia tidak memikirkan yang lain. la mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia".

"Perindu dunia telah berjaya mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalannya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia".

"Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi keperluannya, ia pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya, dan jiwanya tidak bisa istirehat dari kepenatan, ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa sebarang hadiah".

"Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia tidak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan. Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, karena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh cita-cita kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya".

"Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian. Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cubaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya".

"Oleh kerana itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta".

"Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apalagi ditunggui".

"Waspadalah terhadap dunia, kerana mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan-khayalannya batil, kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akan sirna, dan cubaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya".

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mahu berpikir, ia berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha Pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri.

Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarangan dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali nasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada tolok dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta 'ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada.

Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih Dia benci daripada dunia - seperti disampaikan kepadaku - dan Dia tidak melihat kepada-nya sejak Dia menclptakannya karena amat benci kepadanya. Sungguh dunia dengan kunci-kunci nya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah lebih ringan dari sayap lalat yang pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad S.A.W, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahawa jika Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkan nya. Dan jika Allah merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.

Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya. Jika Allah Talaa tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta'ala menjauhkan dunia dari orang-orang yang shalih dengan sukarela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya. Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahawa ia dimuliakan Allah Ta 'ala dengan dunia tersebut, ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah S.A.W dan Nabi Musa S.A

Adapun Rasulullah S.A.W., beliau mengikatkan batu diperutnya karena menahan laparnya. Adapun Nabi Musa A.S, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta 'ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya. Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dari Nabi Musa A.S, bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada beliau, "Hai Musa, Jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, 'Selamat datang simbol orang-orang shalih.' Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, 'Ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.'

Jika engkau mahu, aku ketengahkan Nabi Isa kepada baginda, karena ia amat menakjubkan, la berkata, laukku adalah lapar. Syiarku ialah takut. Pakaianku ialah wol. Haiwan kendaraan ku ialah kedua kakiku. Lampuku dimalam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah-buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan haiwan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa. Dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku.'

Jika engkau mahu, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihi Salam, karena dia tidak kalah menakjubkan, dia makan roti dari gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya. Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dan tangannya ke lehernya, dia semalaman menangis hingga pagi hari. dia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar.

Kendati itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta'ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta'ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.

Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menelusuri jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami ibrah, serta merenung diri. Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tidak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.

Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayat-mayat yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang diperlukan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.

Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa hairan terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata. Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya? Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai.

Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau busuk yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya. Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, ia sangat berkeinginan seandainya dulu ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat, ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa.

Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya? Demi Allah, Jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tersebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya.

Jika demikian permasalahannya, maka seyugianya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan keperluannnya, kerana khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari; hari kelmarin yang tidak boleh engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada di dalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu. siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi!

Adapun kelmarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, jika kelmarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kelmarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.

Adapun esok hari, engkau masih mempunyai sekelumit harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan itu sangat padat, kesedihan itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius, dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut. Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mengambarkan untukmu tentang dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada di dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat, maka engkau tidak mendapatkan kelazatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari syurga dan menggiringmu ke neraka.

Adapun hari ini jika engkau memikirkannya - adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, ia berputar di kedua matamu.

Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, "Aku datang kepadamu setelah saudaraku pergi. Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada saudaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mahu berfikir.

Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan! Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!

Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang. Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu daripada engkau sendiri, padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah, jika dikatakan kepada mayat di kuburan. 'Inilah dunia itu dari awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu?" Pasti ia memilih pilihan kedua. Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti la lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.

"Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut".

"Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik".

No comments:

Search This Blog

Loading...